Tampilkan postingan dengan label Pak Asuy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pak Asuy. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2011

Ribuan Kilometer dari Muara Tae

Tak cukup ratusan kilometer jarak yang ia tempuh dalam mencari dukungan untuk menyelamatkan kawasan adat Muara Tae.  Pak Asuy pun rela bepergian ke tempat-tempat jauh berjarak ribuan kilometer dari kampungnya.

Sebuah perusahaan kelapa sawit tanpa permisi membongkar lahan belukar milik warga Muara Tae.  Sebulan lebih sudah upaya penggusuran ini dilakukan oleh PT Munte Waniq Jaya Perkasa, yang dimiliki oleh TSH Resources Bhd  asal Malaysia.  Kawasan adat di Muara Tae ini digusur paksa hingga nyaris terjadi “perang” antar warga Dayak Benuaq.  Sejumlah preman asal kampung sebelah (Muara Ponaq) mengklaim lahan itu sebagai milik mereka lalu menjualnya kepada perusahaan sawit.  Kontan saja warga Muara Tae sebagai pemilik waris di lahan adat itu berang.  Syukurlah perang tersebut gagal terjadi, karena para pemuka masyarakat Muara Tae pun dapat menurunkan emosi warganya.

Karena kejadian ini, lalu beberapa orang warga Muara Tae berinisiatif mengadukan masalah kepada para wakil rakyat provinsi Kaltim di Samarinda.  Pak Asuy bersama para warga akhirnya berhasil mendapat dukungan politis dari para anggota DPR provinsi Kaltim.  Selepas pengaduan ke Samarinda, Pak Asuy lalu berangkat ke Bogor dan Jakarta dengan tujuan serupa.  Ia mengadukan masalah penggusuran lahan ini pada sejumlah LSM, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) serta Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Jumat, 30 September 2011

Jurig Muara Tae

Muara Tae memang selalu menyediakan banyak cerita dan kejadian.  Hampir setiap orang yang ditugaskan membantu perjuangan masyarakat adat di sana mengalami berbagai kejadian. Kejadiannya pun begitu beragam, tak hanya cerita sedih, namun juga lucu, penuh semangat perjuangan bahkan ada juga yang menyeramkan. 

Naah dalam posting kali ini, kami mencoba menyajikan sebuah cerita personal mengenai keseraman dan suasana menakutkan yang rata2 dialami para sukarelawan yg ditugaskan di Muara Tae.  Cerita personal ini sepenuhnya dituliskan oleh salah seorang sukarelawan asal Bogor dalam blog pribadinya dengan judul Hantu Besi Meresahkan Muara Tae.

===================


Hari Jum’at...  “bagaimana tidur semalam, ada sesuatu gak?” tanya pak Asuy. Pertanyaan yang mengagetkan. Karena seolah beliau tahu apa yang terjadi semalam. “baik baik saja pak” jawabku spontan. “bagian pojok pondok ini terlalu maju” ucapnya sambil menunjuk ke tempat ku tidur semalam. “ini lintasan tempat mereka lewat... kita menutupi jalan mereka” tegasnya. “siapa mereka pak?” tanyaku mencari penegasan. “ya mereka.. hantu yang tinggal di hutan ini” jawab beliau datar tentang dunia lain.

Setahuku memang di kalangan masyarakat sini relatif mempercayai adanya kehidupan gaib. Yang ada pada mahluk hidup dan juga benda mati. Pada manusia, binatang, pohon besar, juga pada mandau, batu besar, gunung, pertigaan sungai,  atau yang lebih kompleks lagi seperti adanya perkampungan gaib. Begitu kelihatan erat hubungan antara mereka dengan kosmos. Terlihat dari adanya aturan dan norma yang mengatur hubungan mereka dengan hal-hal yang bersifat metafisik. Pelanggaran akan aturan akan ditanggapi serius. Karena dianggap dapat merusak keharmonisan hidup bersama. Hanya aku agak terkejut atas pertanyaan diatas... karena peristiwa semalam... wuiih.

Hutan Muara Tae...  malam jum’at...  bulan purnama... sudah beberapa hari ini kami berdua tidur di pondok jaga di tengah hutan. Kali ini tidak ditemani warga karena mereka sedang ada kesibukan di kampung. Aku coba tidur di pojok pondok bagian luar yang tidak berdinding, sementara temanku memilih tidur di dalam. Cahaya rembulan sebagian menerobos rimbunnya dedaunan, menambah dramatis siluet hitam batang pepohonan. Menciptakan suasana temaram dengan berbagai pola bayangan yang halusinatif. Merangsang memori otak akan pengalaman rasa takut tentang dunia metafisis yang abstrak. Membuatku terus terjaga... tiba tiba secara reflek aku berpaling ... ada suara yang begitu nyata di sela ranting dan dedaunan... ada sekelebat bayangan yang melayang turun dari atas pohon.. ... Juriiiiig...  teriakku keras...

 

Jumat, 26 Agustus 2011

Complicated = ruwet = rumit ???


Seperti status relationship di facebook aja: it's complicated. Misalnya begini: Camat mengirim surat lebih dari sebulan lalu. Surat itu menetapkan beberapa orang sebagai pejabat sementara Badan Perwakilan Kampung. Bisik-bisiknya, penetapan ini adalah memo katabelece langsung dari Bupati. Penetapan ini, menurut kejujuran Camat sendiri, bertentangan dengan ketentuan peraturan yang ada. Kemudian warga dan Petinggi Muara Tae, yang tidak sreg dengan penetapan Pjs. BPK itu, menyelenggarakan pemilihan BPK yang menghasilkan 5 anggota BPK, dimana satu di antaranya adalah salah satu dari 5 Pjs. yang ditetapkan Camat tadi. Petinggi kemudian bersurat dengan Camat untuk minta SK penetapan BPK. Camat tadi siang mengirim surat yang menolak BPK pilihan warga ini dan meminta dilakukan pemilihan ulang dengan melibatkan Pak Victor Menong, jagoannya Bupati di Muara Tae. Jadi sekarang Pak  Petinggi Muara Tae akan membaas surat balasan dari Camat itu, yang akan menolak surat penolakan Camat itu atas pemilihan BPK oleh warga sendiri yang menolak BPK yang ditetapkan Camat. Semua ini tentu saja pangkal soalnya adalah penolakan Pak Petinggi dan mayoritas warga Muara Tae terhadap perusahaan tambang dan kelapa sawit.


Kamis, 25 Agustus 2011

Award-winning Filmmaker ...


Kali ini di Muara Tae aku berkesempatan mengamati dari dekat seorang award-winning filmmaker saat sedang berkarya. Seminggu pertama dia lebih banyak mengumpulkan inspirasi dan menyerap hakikat situasi dengan tidur, makan, tidur, makan dan secara umum bersenang-senang. Pengamatanku ini dikonfirmasi oleh banyak ibu-ibu dan kakak-kakak petugas dapur di rumah Pak Asuy. Kemudian si award-winning filmmaker masuk ke hutan dan menjelajahi kawasan dan menyusuri sungai. Agendanya rupanya adalah mencari udang dan ikan-ikan kecil, memasang jerat untuk binatang hutan untuk makan malam, mencuci dan merawat rambut panjangnya, dan menetapkan titik-titik kordinat untuk, maaf, boker.

Saking herannya pernah aku bertanya, "Nanang, kok itu kamera seharian duduk aja di tripod dan gak dipegang-pegang?" Si award-winning filmmaker menjawab, "Oo...itu lagi time-lapsed filming, boss." Hmmm...aku berkata dalam hati bahwa aku memang belum pernah dengar istilah itu tapi aku yakin aku dikibuli aja nih.

Rabu, 24 Agustus 2011

Azizterix???

Entah kenapa dalam perjalanan yang panjang di poros Samarinda-Muara Tae kali ini pikiranku tak bisa lepas dari Aziz. Bukan karena kangen pastinya karena baru ketemu kemarin. Pastinya juga bukan karena hutang karena sudah kulunasi. Mungkin karena ini bulan suci Ramadhan sehingga urusannya jadi ke religius-religius gitu.

Nah, Aziz ini sudah bergelar Haji Kecil, sudah beribadah Umroh ke Mekah. Jadi Aziz ini belum pernah ke London atau Paris atau New York atau Bangkok atau Tiongkok (kalau Rengas Dengklok sih udah kali), tapi dia sudah ke Mekah, mungkin yang paling penting dari semua kota itu. Jadi dia sekarang bergelar Haji Kecil padahal dia tidak punya gelar Drs., Ir., DR., SH, MBA, MM, atau SPi, SPet, SHut, atau apapun.

Memang Haji Kecil sudah paling pas juga sih dengan postur tubuhnya. Ini hal berikutnya yang membuatku memikirkan Aziz dalam perjalanan ke Muara Tae ini, soal pisik. Yang paling sesuai dengan gambaran Asterix ya dia ini lah. Kecil, bengil, tengil, siap kelahi dan ditugaskan ke manapun. Begitulah si Azizterix ini. Plus kualitas-kualitasnya yang lain, seperti misalnya dengan gajinya yang kecil sebagai pengelola T-Port dulu dan beberapa tahun terakhir sebagai sekretaris BPT kok bisa dia pergi ke Mekah, ngasih aku utangan untuk beli rumah, kumintain rokok setiap hari (Sampoerna Kretek).

Sabtu, 09 Juli 2011

Babakan: Tawon Bawa Gorilla


Beruntunglah Gorilla. Sebelum ia benar-benar jatuh ketika ditinggal Capung, ada Bapak Tawon yang membawanya jauh lebih tinggi lagi untuk terbang. Kini ia belajar. Ia mempelajari cara untuk memperbesar sayap, seiring dengan badannya yang menggempal, biar tetap bisa terbang, kalaupun kelak Sang Bapak Tawon sudah tiada.

“Hey! Ayo ikut gue ke kampong!”

“Siaaaapp …! Ajari saya berteman dengan mereka ya?”

Tawon mengangguk setuju pada permintaan Gorilla. Lalu meluncurlah mereka ke kampungnya suku bangsa Dayak Banuaq Ohokng Sanggokng. Ini adalah kali pertamanya bagi Gorilla, tapi yang kesekian kalinya untuk Tawon.

Minggu, 03 Juli 2011

MUARATEORIUM

Hari ini redaksi Lati Tana Adat Takaaq menerima sebuah laporan langsung dari Ruwi di Muara Tae.  Berikut laporannya:

=======================================

Meresmikan Pondok Jaga Utak Melinau

Tepat di hari ini, Minggu 3 Juli 2011, sehari sebelum hari kemerdekaan Amerika Serikat, para warga kampung Muara Tae berkumpul di sebuah kawasan hutan kecil yang disebut Utak Melinau.  Sesuai namanya, "utak" berarti kepala dan "melinau" adalah nama sungai kecil yang mengalir di wilayah Muara Tae.  Maka kawasan hutan kecil tersebut adalah sebuah kawasan penting bagi kehidupan di kampung itu karena merupakan daerah hulu sungai, asal muasal munculnya air yang menjadi urat nadi kehidupan orang Dayak Benuaq.

Minggu, 19 Juni 2011

Belajar berbuat dan merasakan ...

Bila kita terbiasa hidup kota, maka tentu sulit membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang kampung.  Terlebih jika membayangkan hidup di sebuah kampung Dayak Benuaq di Kalimantan Timur sana.  Kampung yang sekalipun masih (terasa) tenang, namun saat justru sedang bersiap untuk menghadapi ancaman kehancuran oleh investasi besar pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit.

Dua orang teman dari Jawa Barat, beberapa waktu lalu datang berkunjung ke kampung ini (baca: Muara Tae).  Selama 2 minggu hidup bersama orang kampung, keduanya belajar banyak hal mengenai kerasnya kehidupan di kampung pedalaman, menginap di hutan, dan kesiapan menghadapi ancaman penghancuran hutan kecil yang tersisa di sana. 

Berikut cerita mereka, yang dituliskan oleh salah seorang dari mereka Ghonjess, berjudul "Bersama Pejuang di Muara Tae".  Penulisnya telah lebih dahulu mem-posting tulisan ini di blog Jawa Kulon.

------------------------------------------------

Tidak bisa berdiam diri dan selalu giat bekerja... begitulah kesan pertamaku... gesit dan cepat ketika berjalan di hutan. Cukup kesulitan mengingikuti beliau seharian mengelilingi hutan Muara Tae pada saat pemetaan batas luar... begitu pula ketika menyusuri anak-anak sungai di hutan utak Melinau.... dengan terus mengayun mandau sambil bersenandung dengan bahasa Dayak Benuaq jalur-pun terbuka untuk dilalui... memiliki pengetahuan identifikasi tumbuhan membuat beliau tak salah tebas pada tumbuhan yang memiliki daya guna... perjalanan terasa menyenangkan... apalagi beliau paham seluk beluk hutan... mengetahui kegunaan dari banyak tumbuhan yang ada... untuk bangunan, untuk upacara adat, untuk obat, untuk perekat hulu mandau, untuk lembing tombak, untuk tali pengikat, untuk budidaya, untuk jerat, untuk racun, dsb... pendek kata beruntung bisa sempat blusak blusuk di hutan bersama beliau... menjadikan alam yang membentang sebagai guru...

Meskipun sudah sepuh beliau memiliki fisik kuat dengan stamina mumpuni... terseok-seok ketika harus mengimbangi beliau memikul kayu ulin yang akan dijadikan tiang-tiang pondok jaga... pada saat hampir menyerah, beliau terus memberi semangat... "ayoo dikit lagiii... udah lebih ringan... airnya udah banyak yang keluar"... kami tetap tak bergerak, terduduk di akar pepohonan yang ada... setelah kuperiksa, ternyata benar... ada air keluar dari pangkal kayu... tapi hanya beberapa tetes...hihihi.... setelah menghilang beberapa saat tiba-tiba beliau muncul dari arah bukit tempat pondok berada. "minum dulu biar kuat" ucapnya sambil menyodorkan air berwarna ungu yang ternyata kuku bima energi jreeng.... hahaha.. spontan aku dan Kosar tertawa terpingkal-pingkal... "jangan tertawa teruus... nanti tambah lemas" teriaknya bersemangat. Tawa kami semakin menjadi...

Nyampe di pondok... "kalau mau kuat mikul kayu dan supaya tidak terasa sakit, yaa harus sering mikul kayu", begitu beliau berbagi kiat pada kami yang terengah ketika beristirahat... aku mengangguk setuju... karena beliau tidak sekedar bicara... aku menyaksikan sendiri buktinya... ketika nafas sudah sedikit lebih teratur, aku baru menyalakan sebatang rokok... tiba-tiba... "kita baru dapat satu tiang, masih butuh lima lagi" ucapnya... langsung lemas dengkulku... "memang tempatnya lebih jauh... tapi yang ini lebih kecil" ujarnya sambil bersemangat... (ternyata maksudnya tuh... meskipun lebih kecil, tapi lebih jauuuh dan jalannya turun naik lagii... hkhkhk..) huuh... akhirnya dengan susah payah kami mampu mengumpulkan 4 tiang dengan panjang 5-6 meter... kupikir semangat beliaulah yang membuat kami mampu.... "tiang yang ini keliatannya harus diganti... jadi masih kurang 3 tiang lagi".... hadaaaw...

aku penasaran, kenapa pondok harus diganti.... "pondok ini dibuat (pada tanggal 15 Mei 2009) secara tergesa-gesa, soalnya pondok sebelumnya dirobohkan oleh orang... entah siapa?... jadi kita cari tiang-tiang ulin yang panjang supaya pondoknya lebih tinggi, kuat dan tahan sampai 50 tahun" ujarnya... walaah... Begitu panjang semangat beliau... membuat ciut yang punya semangat cuma 2 mingguan... bah... bahkan untuk 2 minggupun sulit...

Pak Asuy namanya... warga kampung Muara Tae... orang yang selalu gelisah dengan hadirnya ketidakadilan... perkebunan kelapa sawit dan perusahaan tambang begitu kasat mata merebut, mengepung dan mengancam tanah - hutan mereka... 12 tahun yang lalu pernah mengungsi ke hutan selama 3 bulan akibat sikap perlawanannya,... nyawa mereka terancam.... bersama keluarga dan warga lainnya mereka hijrah meninggalkan kampung... mereka memilih hutan untuk mendapatkan perlindungan... hanya hutanlah pada saat itu yang dapat melindungi mereka... hanya hutanlah yang bisa dipercaya..

kini mereka sudah tinggal di kampung lagi... berharap dapat teman yang mau bersama mempertahankan tanah dan hutan yang tersisa....