Tampilkan postingan dengan label hutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hutan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Agustus 2011

Documented by Gecko and Tiquzgot


Ini sebuah cerita biasa sebenarnya.  Namun jadi terasa agak berbeda karena ini bukan hanya tentang kepergian sebuah tim dari Bogor menuju Kampung Muara Tae.  Tim ini bukanlah tim biasa-biasa.  Kalau mau sedikit "lebay" (berlebihan) boleh juga tim ini dijuluki tim dokumentasi profesional. 

Tim beranggotakan dua orang yang selama ini telah dikenal malang-melintang di dunia dokumentasi media.  Yang satu punya keahlian memotret secara profesional serta gemar membuat goresan gambar tangan berbentuk kartun dengan nuansa lelucon segar.  Sementara yang satunya lagi adalah seorang anak muda penggemar kamera video yang dengan kemampuannya selalu saja berhasil menempatkan posisinya sebagai pembuat filem profesional.  Tak hanya profesional, anak muda ini bahkan telah mampu menempatkan posisinya di kancah perfileman dokumenter antar bangsa.

Jumat, 17 Juni 2011

Bukan Galia?

ANTARA GALIA dengan tempat ini memang punya kesamaan. Sama-sama diterangi api bila gelap menjelang, sama-sama pakai kayu untuk bikin rumah dan sama-sama bertelanjang dada. Yang lainnya, sama-sama ngotot!

Posting ini dituliskan oleh seorang teman yang sering berkunjung ke Muara Tae. Ia telah mem-posting tulisan yg sama sebelumnya di blog pribadinya Babakanblog.

————————————————

Mana ada orang Galia di sini? Ada kok!

Ambrosius Ruwindrijarto, Ghonjess dan M. Kosar, yang bergantian suka menulis di blog Lati Tana Adat Takaaq, bilang begitu. Mereka bilang ketemu Asterix, Obelix, Abraracourcix, dan orang-orang Kampung Galia di Muara Tae. Mereka ini tidak takut dengan buldozer-buldozer, serdadu-serdadu, tambang-tambang, HTI-HTI, perkebunan sawit PT Borneo Surya, PT Gunung Bayan, PT Petrosea, PT Lonsum, PT Tri Tunggal Group, PT Munti Wani, yang semuanya datang mengepung. Yang mereka takuti cuma langit yang runtuh.

Orang Galia di situ tidak juga peduli kalau kampung lain sudah kalah dan menyerahkan kebun dan hutannya.  Mereka ini tetap aja ngotot, pokoknya jangan ganggu kampung dan hutan adat kami!

Padahal orang Galia yang sebenarnya sih sudah kalah, setelah benteng mereka dikelilingi oleh barikade tentaranya Julius Caesar yang mencegah bangsa Gallia mendapat makanan dari luar. Mereka juga ngotot dan bertahan dengan gigih. Romawi butuh tujuh tahun menaklukkannya. Perang Galia itu berlangsung dari tahun 58 – 51 SM. Wilayah Galia saat itu adalah apa yang kini dikenal sebagai Italia bagian utara, Prancis, Belgia, Swiss bagian barat, sebagian barat dari wilayah Belanda dan Jerman di barat Sungai Rhein.

Tapi Muara Tae kan bukan Galia?

“Muara Tae itu Dayak, Pak! Dayak Banuaq Ohokng Sanggokng yang pantang menyerah,” Andreas Sikngo, yang mantan petinggi adat di situ bercerita dengan berapi-api, meski usianya sudah mendekati tiga perempat abad.

Ia bilang kalau suku bangsa Dayak ini dulunya kala tinggal berkelompok di dalam Lamin Sanggokng, sebuah rumah panjang berisi puluhan keluarga, di tepi Sungai Nayan, tepatnya di muara Sei Sanggokng, anak Sei Nayan. Kampung mereka kira-kira se-zaman dengan masa Kerajaan Kutai.



Mereka dianggap pembangkang oleh kerajaan Kutai gara-gara kerap melakukan gerakan Arakng Dodo, tradisi adat local yang dianggap anti kepercayaan Hindu. Raja Kutai memaksa pemindahan mereka di kota Tenggarong, dekat pusat kerajaan, biar mudah diawasi dan dibaurkan dengan kehidupan Kutai lainnya.

Kelompok ini tak binasa meski mendapat hukuman itu. Empat puluh tujuh tahun berikutnya mereka kembali. Sialnya, kelompok suku bangsa Dayak Banuaq lainnya yang berasal dari Lamin Murukng Iyuq sudah menduduki Sanggokng. Lalu terjadi negosiasi. Hasilnya Lamin Sanggokng bisa kembali, tapi tidak dengan hatra benda yang tertinggal empat decade lalu, dan kelompok Lamin Murukng Iyuq kembali ke asalnya, di tepi Sungai Kelawit.

Saat ini di tepi Sungai Kelawit yang itu sudah berdiri dua kampung Dayak, Ponak dan Kenyanyan.

Kampung Ponak juga dihuni suku bangsa Dayak Banuaq yang punya wilayah kelola di sepanjang Sungai Ponak, anak Sungai Kelawit. Di sini masih punya tradisi orang tinggal di dalam lamin oleh para tetua dan sanak keluarganya, meski warga yang lain sudah mulai banyak punya rumah tunggal untuk masing-masing keluarganya.

“Kepala adat di sini bentrok dengan Pak Petinggi kampung,” Yahya Losen, yang ketua RT 2 di kampung Ponak bilang bilang itu. Konflik kepentingan sedang terjadi antara kepala kampung dengan kepala adat berkaitan dengan besaran uang kompensasi dari PT. Borneo Surya Jaya Mining (BJSM), meskipun kedua belah pihak setuju atas datangnya perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Terdapat 300 hektar di kampung ini yang sudah disetujui pejabat kampung untuk masuk ke dalam area PT. BJSM. Besaran uang yang diberikan PT. BJSM adalah Rp. 300 ribu per hektar sebagai biaya ganti rugi atas hak kelola masyarakat. Hak kelola adalah kawasan berladang masyarakat yang tidak bisa ditunjukkan surat-surat kepemilikannya, surat yang disyahkan oleh para tetua adat kampung.

“Tapi ada ganti yang 600 ribu, yang maunya masuk langsung ke kepala adat,”

PT. BJSM juga menawari Rp. 600 ribu per hektar sebagai biaya ganti rugi hak waris masyarakat. Hak waris artinya kawasan berladang dan hutan masyarakat yang ditunjukkan dengan bukti surat-surat kepemilikan. Di sinilah kepala adat punya wewenang, dan dengan mentang-mentang ia merasa punya hak atas uang yang ini. Petinggi Kampung meradang. Ia tidak setuju itu masuk begitu saja ke saku kepala adat.

“Saya juga sama kesalnya dengan ulah kepala adat,” Rubin yang warga Kampung Ponak RT 1 itu senada dengan Losen. Ia dan puluhan orang lainnya, yang mengelola lebih dari 500 hektar hutan adat dan peladangannya, dirugikan oleh tingkah polah kepala adat itu, karena enam puluh satu hektar tanahnya dirampas dan dijual kepada PT. BJSM.

Kampung Kenyanyan ternyata juga sama curiganya sama PT. BJSM. Dadau, yang kepala kampung ini ingat betul bahwa PT. BJSM belum pernah memberitahukan rencana kehadirannya. Samar-samar di warung kopi sih ia pernah dengar niat PT. BJSM untuk masuk ke kampungnya. Mereka bahkan sudah menyusun rencana untuk bicara secara formal kepada kepala kampung, yang katanya diadakan pada minggu-minggu setelah paskah 2011. Tapi sekarang mana?

“Kalau mau masuk, ya terserah warga saja, mau diterima atau ditolak,”

“Saya setuju kok ada LSM memantau kebun sawit,”

Ia cuma minta pada PT. BJSM agar mengajak warganya melakukan studi banding dulu ke tempat-tempat yang telah dibangun kebun sawit, mulai dari lokasi yang baru penanaman, hingga yang sudah beroperasi.

Nah, kalau sudah begini ceritanya kan makin terang. Kalau mau menang Muara Tae tidak bisa berjuang sendiri. Pelajaran dari kekalahan Galia yang terlalu pe-de sorangan wae mengajarkan pentingnya membangun persatuan luas anti-perampasan tanah dengan kampung lainnya untuk confront dengan PT. BJSM selaku tuan tanah tipe baru. Muara Tae, Ponak, Kenyanyan, ditambah dengan Lambonah, Pentat, Muara Nayan sudah sepatutnya membangun kerjasama.

Biar Ambrosius Ruwindrijarto, Ghonjess dan M. Kosar makin nyata diilhami oleh kegigihan orang Dayak. Siapa tahu mereka mau bikin cerita bergambar heroik tentang Muara Tae. Seperti orang Gallia yang mengilhami kartunis René Goscinny dan Albert Uderzo menciptakan tokoh Asterix dan Obelix.

Rabu, 15 Juni 2011

Membangun Pondok Jaga Hutan (selanjutnya)

Posting ini kami tampilkan dari sebuah tulisan singkat mengenai perkembangan terbaru para tim relawan Telapak yang saat ini berada di Kampung Muara Tae.

------------------------------------------------------------------

Muara Tae, Selasa 14 Juni 2011

Kemaren selama seharian kami membantu pendirian pondok jaga di areal hutan/ladang yang dikelola Pak Saydan. Lokasinya persis berseberangan dengan areal landclearing PT. BJSM dan camp para pekerjanya, kira-kira 200 meter jauhnya.

Kelompok gotong royong itu dipimpin Pak Asuy dan Pak Saydan sebagai wakilnya. Selain Karno, Jean dan Panji, Pak Atang, yang berdomisili di Samarinda Utara sebagai petani sayur & padi-sawah, juga turut serta membantu.

Pandang-pancang pondok telah didirikan dengan memanfaatkan pohon akasia yang tumbuh liar di situ, rupanya ia berasal dari biji-bijian pohon sejenis yang ditanam perusahaan HTI di sekitar situ. Bentuk pondok adalah rumah panggung, kira-kira dua meter dari tanah, dan tersamarkan oleh keliaran semak belukar, yang menguntungkan bagi kita karena sulit dilihat dari arah camp pekerja. Tapi sebaliknya. Mereka mudah kami lihat dari sini.

Hari ini, Selasa 14 Juni 2011, kelompok itu akan melanjutkan pekerjaan pondoknya, dengan tambahan bala bantuan dari Pak Sinkngo & Ismail anaknya. Para kerabat Pak Saydan juga turut berperan serta, meski tak berbentuk tenaga melainkan dukungan finansial. Tak apalah. Tokh finansial diperlukan untuk melengkapi pendirian pondok, membeli seng untuk atap, menambahi paku dan peraltan kerja lainnya.

Sementara para relawan Telapak tetap melaksanakan rencana semula.  Bahwa ukuran keberhasilan penyadaran di kampung diorientasikan pada dua hal besar,
  1. Memobilisasi mereka dalam kerja gotong royong pendirian pondok-pondok jaga dalam kelompok gotong royong, khususnya di hutan/ladang yang berbatas langsung dengan areal landclearing PT. BJSM. Disamping segi bergotong-royong, diskusi kritis penyadaran juga patut diselenggarakan di tengah istirahat kegiatan pembangunan pondok.
  2. Bila untuk yang (poin 1) mereka tak bisa terlibat aktif karena kesibukan kerja dari setiap keluarga, setidaknya mereka turut bersetuju atas petisi yang disusun untuk memepertahankan hutan/ladang & menolak perampasan tanah PT. BJSM.
Maka, kami tetap membagi dalam 2 tim yang saling berkoordinasi dengan ketat, agar informasi di atas/hutan dan di bawah/kampung dapat terdistribusi dengan baik.

Senin, 06 Juni 2011

Muara Tae 08

Menjaga Hutan dan Mata Air sebagai Sumber Penghidupan

Ternyata ada sebuah rahasia di balik semua keheroikan orang-orang galia Muara Tae ini untuk menjaga kawasan dan hutan adatnya.  Rahasia ini terbongkar saat ngobrol-ngobrol dengan Pak Petinggi, sebagai berikut:

Pak Petinggi: Begini, Mas... Sebetulnya ada sebuah rahasia yang saya mau ceritakan. 
Aku: Apa Pak? 
Pak Petinggi: Sebenarnya kami punya sebuah rencana bisnis yang luar biasa dan berjangka panjang.  Tapi Mas harus bisa rahasiakan ya.. supaya tidak ketahuan sama para pesaing. 
Aku: Iya lah, Pak.  Pasti saya rahasiakan. 
Pak Petinggi: Jadi begini, Mas.  Kan semua lahan di sekitar kampung kita ini sudah habis untuk tambang dan perkebunan kelapa sawit, jadi pasti tidak lama lagi mereka semua akan kesulitan air. 
Aku: Terus? 
Pak Petinggi: Nah, begitu, Mas.... Makanya kami mau jaga hutan ini dan mata air-mata air.  Jadi nanti kita akan bikin perusahaan penyedia air, seperti Aqua gitu.  Pasti akan laku keras dan mereka semua akan beli dari kita.
Pak Petinggi: Kan mereka tidak bisa minum air bekas tambang, atau memeras TBS jadi air minum.  Pasti sungai-sungai dan mata air-mata air mereka akan kering kerontang. Kita akan suplai air dan jadi perusahaan raksasa seperti Danone.
Pak Petinggi: Tapi jangan bilang-bilang ya...jangan sampai mereka tahu dan ikut-ikutan jaga hutan dan lestarikan mata air.  Kita gak mau ada pesaing dalam bisnis ini.



Itu ternyata rahasia di balik semua ini.  Aku menduga itu juga sebabnya Pak Petinggi ini tidak pernah mau lepas dengan laptopnya.  Di sana rupanya juga tersimpan berbagai informasi dan intelijen bisnis yang sangat sensitif.  Bahkan sampai sekarang aku belum berhasil mengetahui merek dan tipe laptopnya itu.  Misterius sekali.  Aku jadi khawatir laptop itu memang luar biasa dan bahkan bisa menyadap pembicaraan-pembicaraan dan langsung merekamnya dan mentranskripnya dan menyusunnya menjadi Rencana Strategis atau Business Plan.  Aku jadi turut hati-hati dan menyembunyikan buku catatan kecil yang selalu kubawa-bawa layaknya seorang pemerhati dan aktivis yang baik dan benar.

Aku sebetulnya agak skeptis dengan rencana rahasia ini karena kalau mau menyaingi PT Danone Aqua itu mereka setidaknya harus punya hutan seluas gunung salak di bogor.  Di sini kalau dikumpul-kumpul paling-paling mereka hanya bisa pertahankan dan kelola beberapa ratus hektar.  Tapi aku tidak mau mengecilkan hatinya maka aku mengangguk-angguk dan memberi semangat, "Wah...bagus sekali itu, Pak".  Memang selama di Muara Tae ini aku tidak merasakan mereka punya masalah dengan air bersih.  Sungai Melinau dan sungai-sungai lain dan banyak sekali anak sungai memang masih mengalir dengan jernih.  Aku sempat minum langsung dari salah satu mata air di hulu Sungai Melinau dan rasanya memang jauh lebih segar dan nikmat daripada Aqua.  Tapi... ide bisnis mau menyaingi Danone dan mensuplai air ke seluruh kampung, kecamatan, dan kabupaten ini rasanya agak terlalu bombastis deh.  Ini jadi pelajaran berikutnya: Hati-hati dengan orang-orang galia Muara Tae ini, kadang-kadang mereka ini bombastis banget!