Minggu, 03 Juli 2011

MUARATEORIUM

Hari ini redaksi Lati Tana Adat Takaaq menerima sebuah laporan langsung dari Ruwi di Muara Tae.  Berikut laporannya:

=======================================

Pada hari ini, Minggu 3 Juni 2011, telah berlangsung Upacara Makan Nyahuq Bayaq di Utaq Melinau, Hutan Adat Muara Tae. Secara garis besar, upacara ini adalah upacara makan-makan para leluhur yang menjaga pohon-pohon, hutan, air, dan tanah di Muara Tae. Prosesi dalam upacara ini terdiri dari:
  1. Mantra dan doa untuk melepas mara bahaya, dilakukan di rumah panggung.
  2. Turun ke tanah dan menyampaikan mantra dan doa dan persembahan di tempat-tempat yang telah disiapkan untuk para leluhur. Mengundang para leluhur untuk makan-makan.
  3. Semua sisa-sisa makanan yang tidak bisa dihabiskan oleh para leluhur kemudian diangkut kembali ke rumah panggung untuk dimakan oleh para manusia, besar kecil muda tua.
Setelah keseluruhan prosesi upacara diselesaikan secara khidmat, khusuk, dan menyenangkan, acara dilanjutkan dengan ramah tamah. Pak Asuy dengan seragam Telapak T-140nya memulai dengan menyampaikan taklimat sebagai Ketua Kelompok Pesuli Lati Tana Adat Takaa. Tidak ada hal yang penting dari taklimat tersebut untuk dilaporkan di sini, kecuali bahwa kelompok ini akan memelopori dan memimpin seluruh Masyarakat Adat Muara Tae untuk mempertahankan dan menjaga Kawasan Adat Muara Tae sampai kapanpun, dengan cara apapun, dengan konsekuensi apapun, dan bahwa kelompok ini akan mengembalikan yang pernah ada menjadi ada lagi, dan yang tiada menjadi ada, dan yang masih ada menjadi semakin ada (ini sungguhan beneran, penulis sama sekali tidak mengada ada), dan bahwa sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah memaksakan terwujudnya moratorium perampasan hak dan pembongkaran hutan, sebagai wujud partisipasi nyata rakyat untuk Presiden SBY dengan kepres atau inpres moratoriumnya, sebagai dukungan tulus terhadap Letter of Intent antara Indonesia dan Norwegia yang dengan seluruh niat baik bermaksud menyelamatkan bumi dari perubahan iklim yang mengancam dunia, sebagai sebuah solidaritas kepada jajaran LSM se-Indonesia yang sedang memperjuangkan good governance, keadilan ekologi, dan penghormatan hak asasi, sebagai bakti suci kepada leluhur dan alam semesta yang menaungi bumi dan manusia.

Setelah taklimat yang terlalu datar dan kurang greget dari Pak Asuy tersebut, Pak Petinggi kemudian menyampaikan berbagai konteks ekonomi, sosial, dan politik berkenaan dengan Muarataeorium ini, termasuk menginformasikan bahwa semua perusahaan sawit dan tambang yang beroperasi di sekitar kampung dan yang sedang mengancam kampung sesungguhnya adalah sponsor politik dan finansial Bupati Romawi Kutai Barat dan bahwa melawan perusahaan-perusahaan tersebut adalah identik dengan melawan Pemda.

Setelah Pak Petinggi, giliranku memberi sambutan. Aku menyampaikan beberapa lelucon tentang orang tegal penjaga fotokopian, orang banyumas penjual soto, orang jogja di bis kota, orang surabaya peternak buaya, dan beberapa objek lainnya. Sambutanku nampaknya cukup memperoleh sambutan, terbukti dengan disajikannya berbagai jenis kue dan minuman saat aku menyampaikan sambutan tersebut.

0 comments:

Posting Komentar