Tampilkan postingan dengan label kutai barat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kutai barat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Agustus 2011

Kemenangan dan Kekalahan (kecil)

Kemenangan-kemenangan kecil atau small victories:

1. Rencana pembayaran Rp 600 ribu per hektar oleh PT Borneo Surya Mining Jaya dalam rangka ekspansi perkebunan sawit ke Muara Tae pada tanggal 25 Agustus 2011 telah berhasil DIGAGALKAN (meskipun mungkin sementara).

Analisis: Manajer perusahaan yang bersangkutan rupanya ngeri melihat ada tikus got di hutan Muara Tae. Selain itu konfrontasi langsung oleh Pak Petinggi, didampingi bodyguard tentunya, membuat mereka berpikir bahwa ini belum saatnya. Ada kemungkinan lain sih, meskipun agak terlalu dipaksakan, yaitu bahwa mengingat mau lebaran maka dana cash perusahaan dipakai untuk bayar THR dulu.

2. Lenyapnya PT Gemuruh Karsa. Alamat sesuai yang tertera di dokumen-dokumen resmi perusahaan sudah tidak ada. Ini adalah kemenangan karena berhasil mengubah sebuah perusahaan tambang yang biasanya seram menjadi fiktif. Kepastian lenyapnya alamat, kantor, dan orang-orang perusahaan ini didapatkan melalui penyelidikan langsung dari rumah ke rumah di ibukota kabupaten pada khususnya dan di Kutai Barat pada umumnya.



Selasa, 07 Juni 2011

Muara Tae 09


Program Terpadu Pembangunan Jalan dan Penciptaan Lapangan Kerja

Pembangunan jalan di Kabupaten Kutai Barat dipadukan dengan penciptaan lapangan kerja, khususnya bagi para pemuda dayak setempat. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa orientasi pembangunan pada sektor pertambangan dan perkebunan selama ini telah mengakibatkan pengangguran besar-besaran di kelas masyarakat setempat. Diperkirakan bahwa paling banyak hanya 10% dari tenaga kerja di perusahaan-perusahaan pertambangan dan perkebunan yang berasal dari masyarakat setempat. Sebagian besarnya adalah pekerja pendatang dari Sulawesi, Jawa, Sumatra, dan Flores. Padahal pembangunan pertambangan dan perkebunan tersebut telah menghilangkan mata pencaharian dan sumber-sumber penghidupan masyarakat setempat, yaitu dengan hilangnya kebun, hutan dan ladang. Dalam kondisi tersebut, pembangunan jalan menciptakan lapangan kerja baru bagi para pemuda setempat, yaitu menjadi pemungut uang receh di setiap bagian jalan yang berlubang-lubang, berlumpur, dan rusak. Setiap kendaraan yang lewat membayar antara Rp 500 sampai Rp 1000 kepada kelompok pemuda yang berjaga di titik jalan yang rusak tersebut. Kadang-kadang para pemuda tersebut memperlihatkan sekop atau pacul sebagai justifikasi, tapi seringkali juga hanya sekedar berdiri di pinggir atau tengah jalan dan memungut bayaran receh ini. Dengan perkiraan panjang jalan antara Samarinda sampai Melak adalah sekitar 350 km, dan apabila pos pungutan jalan rusak ini didirikan setiap 5 m, dan apabila setiap pos pemungutan ditenagakerjai oleh 3 orang pemuda, maka lapangan pekerjaan yang tercipta adalah sebanyak 350.000 meter dibagi 5 meter dikali 3 pemuda: 210.000 tenaga kerja. Apabila setiap pos pungutan ditenagakerjai dengan dua shift, siang dan malam, maka profesi ini bisa menyerap 2 X 210.000 = 420.000 tenaga kerja. Konsep yang brilian!!!